Senin, 18 Juni 2012

Konflik Malaysia & Indonesia dari tahun ke tahun

Kali ini saya ingin membahas hubungan Malaysia dan Indonesia yang kembali memanas, bukan masalah penyelesaian yang ingin saya gambarkan saat ini, tapi saya berusaha untuk menarik benang merah perseturuan Indonesia - Malaysia yang tak kunjung usai sejak tahun 1961 hingga 2010 ini.

Kita semua tahu, saat ini hubungan Malaysia dan Indonesia sedang panas-panasnya, bahkan kedua negara ini sudah dalam tahap persiapan persenjataan untuk melakukan perang. Dimana perang serupa sempat terjadi di tahun 1963.

Sebagai generasi saat ini, saya kurang banyak tahu latar belakang hubungan Malaysia dan Indonesia sehingga terus menerus terjadi ketengan. Sejauh pengetahuan saya, hubungan kedua negara didasari oleh perebutan daerah perbatasan. Memang benar, hal itu terjadi, tapi dasar utama hingga ketengan itu terjadi saya kurang bisa mengetahuinya.

Olehnya itu, saya terus berusaha mencari tahu latar belakang ketenganga Indonesia dan Malaysia dari tahun ketahun. Berikut ini, gambaran umum perseteruan Indonesia dan Malaysia dari tahun ke tahun.

1961
Wilayah Kalimantan, di wilayah selatan menjadi bagian dari Provinsi Indonesia, di utara terdapat kerajaan Brunei, dan dua koloni Inggris yaitu Sarawak dan Borneo Utara (yang kemudian dinamakan Sabah). Dalam tahapan selanjutnya pada tahun yang sama ini Inggris mencoba menggabungkan koloninya di semenanjung Malaya dengan yang di pulau kalimantan dengan nama Federasi Malaya.
Rencana ini secara tegas ditolak oleh Presiden RI Soekarno, karena hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan tersebut dan secara jangka panjang akan mengancam kedaulatan NKRI. Pada saat yang hampir bersamaan dengan Soekarno, Filipina pun membuat klaim atas Sabah dengan alasan faktor kesejarahan dengan Kesultanan Sulu yang memiliki kedekatan sejarah dengan Filipina.

8 Desember 1962
Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) melakukan pemberontakan dengan mencoba menangkap Sultan Brunei, ladang minyak dan sandera orang-orang eropa, Sultan Lolos dan meminta bantuan Imperialis Inggris. Sultan Brunei pada akhirnya didukung oleh pasukan Gurkha dari Singapura. Hal ini sepenuhnya dibawah kendali Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command).

20 Januari 1963
Menteri Luar Negeri Indonesia, Soebandrio telah mengambil sikap tegas menentang pendirian Koloni Imperialisme Inggris di tanah Melayu

12 April 1963
Sukarelawan Indonesia telah memasuki wilayah Kalimantan Utara, Sabah dan Sarawak untuk melancarkan aksi propaganda dan aksi penyerangan berupa sabotase terhadap beberapa fasilitas-fasilitas administratif yang dikuasai oleh imperialis Inggris.

27 Juli 1963
Bung Karno mencanangkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidatonya yang berjudul sama. Isi Pidato tersebut adalah:
Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar! Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu. Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoo…ayoo… kita… Ganjang…
Ganjang… Malaysia
Ganjang… Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!
31 Agustus 1963
Kemerdekaan Malaysia Yang mana kemerdekaan Malaysia didukung oleh Inggris, hal ini dibuktikan dengan pendirian persemakmuran Inggris Raya (Common Wealth) , pada wilayah Sabah, Sarawak, Brunei dan Singapura bersama-sama dengan Persekutuan Tanah Malaya.

16 September 1963
Federasi Malaysia resmi terbentuk dengan minus Brunei yang menolak bergabung dan Singapura keluar dari federasi tersebut hingga hari ini.

Pertengahan 1964
Australia melancarkan operasi Claret, keterlibatan dalam pembebasan kalimantan utara dari Indonesia dengan membawa 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australian Special Air Service, hal ini diakui pemerintahannya pada pembukaan dokumen Claret pada 1996.

Pada bulan mei tahun yang sama dibentuk Komando Siaga oleh pemerintah Indonesia yang bertugas mengkoordinir kegiatan perang terhadap malaysia dengan sandi Operasi Dwikora. Pada perjalanannya berubah menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Komando dipimpin oleh Laksdya Udara Omar Dhani sebagai Pangkolaga.

20 Januari 1965
Ketika PBB menerima keanggotaan tidak tetap Malaysia, Sukarno menarik diri dari PBB dan menyatakan mendirikan Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces-Conefo)

Pertengahan 1965
Indonesia dengan pasukan resminya menyeberangi perbatasan masuk melalui pintu timur dikawasan Pulau Sebatik dekat Tawau Malaysia, Sabah dan berhadapan langsung dengan Resimen Askar Melayu Diraja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary.

28 Mei 1966
Setelah tampuk kekuasaan berpindah dari tangan Soekarno ke Soeharto, secara resmi pemerintahan kedua negara menyetujui berakhirnya konflik.

27 oktober 1969
Perjanjian tapal batas kontinental Indonesia-Malaysia
Kedua negara melakukan ratifikasi pada 7 November 1969, akan tetapi pada akhir tahun 1969 Malaysia memasukkan Pulau sipadan, Pulau Ligitan dan Batu Puteh dalam peta wilayahnya. Akan tetapi Pemerintahan Indonesia waktu itu menolak secara tegas peta wilayah tersebut.
Pada tahun yang sama terjadi kerusuhan etnis besar-besaran diwilayah Kesultanan Brunei karena sentimen ras melayu kalimantan tentang penguasaan Federasi Malaya, hal ini dapat diberantas oleh pasukan imperialis Inggris.

17 Maret 1970
Persetujuan Tapal Batas Laut Indonesia dan Malaysia terjadi,
Akan tetapi pada tahun 1979 Malaysia kembali melakukan pengingkaran terhadap perjanjian ini dengan memasukkan blok maritim Ambalat ke dalam wilayahnya dengan memajukan koordinat 4 derajat 10 menit arah utara melewati Pulau Sebatik. Hal ini tentu menyebabkan pemerintahan Indonesia pada waktu itu menolak peta baru Malaysia tersebut.

Melalui kedua peristiwa tersebut Malaysia, secara langsung melakukan aksi sepihak dengan melancarkan aksi yang menyebabkan ketegangan yang tinggi dengan Indonesia. Penangkapan Nelayan Indonesia pada wilayah-wilayah yang diakui oleh Malaysia tersebut terus terjadi.
Pemerintah Indonesia pun tak henti-hentinya melakukan upaya diplomasi kepada Mahkamah Internasional, akan tetapi tak pernah didapat kesepakatan yang menguntungkan pihak Indonesia. Puncaknya adalah 17 Desember 2002, Mahkamah Internasional yang berkedudukan di Den Haag, Belanda memutuskan dalam perkara Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan, Indonesia dinyatakan kalah dengan Malaysia.

Dalam beberapa hal, Mahkamah Internasional menerima argumentasi Indonesia bahwa Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan tidak pernah masuk dalam Kesultanan Sulu seperti yang diklaim Malaysia, akan tetapi Mahkamah Internasional juga mengakui klaim-klaim Malaysia bahwa telah melakukan administrasi serta pengelolaan konservasi alam di kedua pulau tersebut.

2004-2005
Pasca pemilihan presiden langsung yang pertama kali pada 2004, pengiriman TKI ke Malaysia secara besar-besaran tak terbendung. Berbagai perlakuan kasar Warga Malaysia terhadap para TKI telah memunculkan gelombang aksi dipelosok Indonesia. Pada awal tahun 2005, Indonesia diguncang isu perebutan kawasan Ambalat oleh Malaysia, konflik Ambalat yang tak kunjung selesai sampai dengan hari ini telah membawa dampak ketegangan yang cukup tinggi.

2009
Pada pertengahan 2009 lalu, kembali ketegangan antara kedua negara terjadi dikarenakan tari pendet yang asli dari pulau dewata bali dijadikan salah satu ikon Malaysia dalam iklan resmi pariwisata nasional Bangsa tersebut.

Lagi-lagi Malaysia memancing kemarahan warga Indonesia yang pada waktu itu beberapa seniman di bali hingga salah satu pelestari tari pendet menyatakan menolak klaim Malaysia tersebut. Ketegangan sejak akhir 2006 hingga awal 2010, terkait dengan seni dan budaya Indonesia yang diklaim oleh Malaysia.

Menurut catatan, ada beberapa bahkan terkait dengan kesejarahan nasional Indonesia sudah dimiliki oleh Malaysia. Naskah Kuno dari Riau, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara yang diklaim bahkan sudah berada di museum-museum Malaysia. Lalu beberapa lagu daerah asli dari Indonesia seperti Lagu Rasa Sayang-sayange dari Maluku, Lagu Soleram dari Riau, Lagu Injit-injit Semut, Lagu Kakak Tua dari Maluku, Lagu anak kambing saya dari Nusa Tenggara Barat yang diklaim menjadi Lagu Daerah dari Malaysia. Dan masih banyak jenis seni dan budaya yang diklaim oleh Malaysia.

2010
Puncak dari semua perjalanan panjang ketegangan Indonesia- Malaysia dipicu dari tiga orang anggota DKP Tanjung Balai Karimun Indonesia telah ditangkap Marine Polisi Malaysia beberapa waktu lalu. karena upaya pencegahan penjarahan ikan yang dilakukan kapal berbendera Malaysia di wilayah perairan Indonesia. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya ketiga petugas perairan laut tersebut malah ditangkap polisi perairan Malaysia di wilayah Indonesia.

Babak baru ketegangan di wilayah kawasan Asia Tenggara ini nampaknya akan berlagsung panjang dan alot. Tetegangan yang tinggi pada akhir-akhir ini juga disebabkan pemerintahan Malaysia yang mulai melakukan serangan untuk menciptakan situasi tidak kondusif, Isu keamanan yakni travel advisory yang dikeluarkan oleh pemerintah Malaysia untuk mencegah bagi warganya untuk melakukan perjalanan ke Indonesia, membuat hubungan kedua negara ini makin memanas.

sumber: birokrasi.kompasiana.com

0 komentar:

Posting Komentar